Blogger Themes

wordpress plugin

18/11/08

Trimodal Death Distribution

Kematian karena trauma terjadi pada salah satu waktu dari tiga periode waktu. Puncak pertama dari kematian karena trauma terjadi beberapa detik atau menit setelah kejadian. Pada waktu yang dini ini kematian umumnya karena laserasi otak, batang otak, spinal cord level yang tinggi, jantung, aorta, dan pembuluh dara besar lainnya. Hanya sedikit dari kelompok penderita ini dapat diselamatkan karena beratnya cedera. Keberhasilan penanggulangan kelompok ini hanya dapat berhasil didaerah urban (perkotaan) tertentu dimana terdapat sarana pelayanan pra rumah sakit (ambulans gawat darurat) yang cepat dan baik. Hanya prevensi yang dapat mengurangi angka kematian kelompok ini.

Kematian puncak kedua terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah kejadian trauma. Kursus Advance Trauma Life Support (ATLS) / Basic Trauma Life Support (BTLS ) terutama memfokuskan pada puncak kedua ini. Kematian pada puncak kedua ini biasanya karena perdarahan sub dural dan epidural, hemopneumothoraks, ruptur limpa, laserasi hati, fraktur pelvis, dan atau cedera multiple lainnya dengan perdarahan yang berat. penanggulangan pada jam pertama setelah kejadian mencerminkan kebutuhan perlunya penilaian dan resusitasi yang cepat yang merupakan prinsip dasar dari ATLS dan BTLS.

Kematian puncak ketiga, terjadi setelah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah kejadian. kebanyakan terjadi karena sepsis dan gagal sistem organ multiple. Kualitas penanggulangan pada setiap periode, berdampak pada periode ini. jadi orang yang pertama dan setiap individu yang terlibat dalam penanggulangan kasus gawat darurat/trauma akan mempunyai dampak langsung pada hasil akhir jangka panjang.

Sumber : ATLS 2004

TRAUMA : Angka, Biaya dan Upaya

Di Amerika Serikat, jumlah dollar yang dikeluarkan setiap tahun yang berkaitan dengan trauma melampaui $ 400 milyar dollar. Biaya ini meliputi hilangnya pemasukan, pengeluaran medis, biaya administrasi asuransi, kerugian material, kerugian yang dikeluarkan majikan/perusahaan, dan biaya tidak langsung yang berkaitan dengan cedera karena pekerjaan. Dari dana sebesar itu hanya sedikit saja yang disisihkan untuk melakukan riset hal-hal yang berkaitan dengan trauma. Padahal kematian tragis akibat trauma sebagian besar terjadi pada usia muda yang masih produktif. Salah satu penyebab kematian yang paling besar adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan sabuk pengaman dan helmet.

Pada tahun 1990, cedera akibat trauma menyebabkan 3.2 juta kematian dan 312 juta penderita diseluruh dunia yang memerlukan perhatian. Pada tahun 2000, kematian mencapai 3.8 juta dan pada tahun 2020 cedera/trauma akan merupakan penyebab kematian tertinggi kedua atau ketiga untuk semua kelompok umur. Keadaan ini merupakan penyebab kematian pada setiap manusia umur 1-44 tahun dinegara maju dan berkembang, dan akan menjadi masalah kesehatan setelah penyakit menular dapat dihapus.

Di 39 negara yang mempunyai data lengkap, didapat bahwa 70% kematian dan cedera disebabkan oleh kecelakaan lalulintas. Diantara 10 negara tersebut, KLL merupakan penyebab kematian dan cedera nomor 2 dan hanya di finlandia yang merupakan nomor 3. Mekanisme penyebab fatalitas berbeda dari negara ke negara. Diselandia baru KLL merupakan penyebab kematian tertinggi, 2.5 kali lebih tinggi dibanding dengan kepulauan Bahamas dan kerajaan inggris. Jatuh dari ketinggian, tenggelam, dan luka bakar merupakan penyebab kematian tersering berikutnya.

Kematian karena luka tembak merupakan masalah di US, Norwegia, dan Perancis. Di Amerika Serikat kematian karena luka tembak mendekati KLL untuk kelompok umur 15-24 tahun yaitu 13.7 dibanding 16.2 untuk setiap 100.000 penduduk. penyebab utama di Amerika adalah kebebasan kepemilikan senjata api.

Kecacatan Akibat cedera/trauma di Amerika Serikat dan Portugal mencapai 3 : 1 dibanding dengan kematian. Di Amerika Serikat tiap tahun terdapat 60 juta cedera/trauma yang menyebabkan adanya 36.8 juta kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Ini merupakan 40% dari semua kunjungan ke UGD. 54% daripadanya adalah anak-anak berumur antara 5-14 tahun. Untuk setiap kematian ada 19 penderita dirawat, 233 kunjungan ke UGD dan 450 kunjungan ke dokter yang berkaitan dengan trauma.

Data tersebut diatas menunjukan bahwa penanggulangan cedera akibat trauma mengkonsumsi secara signifikan sarana kesehatan dari setiap negara. Cedera/trauma merupakan suatu penyakit. Ada Host-nya (penderita) dan ada Vektor-nya (kendaraan, senjata api, mesin dll). Banyak usaha yang telah dilakukanuntuk menghapus penyakit menular, penyakit jantung dan kanker. Tetapi hanya sedikit perhatian masalah penanggulangan cedera/trauma. Padahal sebagian besar yang mengalami trauma adalah generasi muda yang masih produktif.

Oleh karena itu perlu adanya riset dan prevensi untuk masalah trauma dan perlu adanya penyedian sarana-prasarana yang memadai yang meliputi Ambulans Gawat Darurat dan Rumah Sakit Rujukan. Selain itu perlu adanya suatu sistem yang terintegrasi antara fase pra rumah sakit-rumah sakit-paska rumah sakit.

Salah satu upaya yang paling murah dilakukan adalah memberikan training penanggulangan penderita trauma kepada masyarakat sebagai penolong pertama (first aider) dan profesional kesehatan yang meliputi Dokter dan perawat.



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More